Menapaki Mizan: Harmoni Ketenangan

 

Menapaki Mizan

Harmoni Ketenangan

Oleh : Okta Riady 

(Ditulis dengan bantuan ChatGPT.)


Kita sering merasa sudah cukup bijak dalam melihat hidup. Merasa rasional, merasa realistis, bahkan merasa objektif. Namun tanpa disadari, cara kita memandang sesuatu kerap hanya dari satu arah. Kita cenderung memilih yang nyaman, dan menjauh dari yang menyakitkan. Kita ingin bahagia, tetapi enggan menerima duka yang menyertainya.

Dalam relasi, misalnya, tidak sedikit orang yang pergi ketika menemukan kekurangan. Seolah-olah kekurangan adalah alasan final untuk mengakhiri segalanya. Ada kisah tentang seseorang yang berulang kali menikah dan bercerai. Setiap kali ia menemukan cela pada pasangannya, ia memilih pergi, berharap menemukan yang “lebih sempurna.” Padahal, jika direnungkan lebih dalam, kekurangan adalah sesuatu yang melekat pada setiap manusia. Tidak ada satu pun individu yang benar-benar utuh tanpa cela.

Masalahnya bukan pada keberadaan kekurangan itu, tetapi pada cara kita memaknainya. Ketika fokus kita hanya tertuju pada apa yang tidak kita sukai, maka kita kehilangan kemampuan untuk melihat kelebihan yang sebenarnya hadir bersamaan. Kita ingin pasangan yang sempurna, tetapi lupa bahwa kesempurnaan itu sendiri adalah ilusi.

Hal yang sama juga terjadi dalam cara pandang terhadap pernikahan itu sendiri. Di zaman yang semakin rasional, banyak orang memilih untuk tidak menikah. Alasannya logis: pernikahan dianggap rumit, penuh tanggung jawab, dan berpotensi menghadirkan konflik. Semua itu benar. Namun seringkali yang luput adalah sisi lain: bahwa di dalam pernikahan juga terdapat ruang kebahagiaan, pertumbuhan, dan makna yang tidak bisa digantikan oleh pilihan hidup yang sepenuhnya individual.

Di titik ini, kita mulai melihat pola yang sama: manusia ingin mengambil bagian terang tanpa bersedia menerima bayangannya. Padahal, hidup tidak pernah bekerja seperti itu.

Kebahagiaan tidak berdiri sendiri. Ia selalu datang bersama pasangannya: duka. Seperti siang yang tidak bisa dilepaskan dari malam, seperti langit yang tidak hanya biru tetapi juga mendung. Menolak salah satunya berarti menolak keseimbangan itu sendiri.

Di sinilah refleksi menjadi penting. Bahwa untuk benar-benar hidup, seseorang tidak cukup hanya memilih apa yang menyenangkan. Ia juga harus berani menerima apa yang tidak nyaman. Karena justru di situlah keseimbangan bekerja.

Prinsip ini sejalan dengan pesan mendalam dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Ar-Rahman 7 s.d 9:

“Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia ciptakan keseimbangan (mizan), agar kamu tidak melampaui batas dalam keseimbangan itu. Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan jangan kamu mengurangi keseimbangan itu.”

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kosmos, tetapi juga tentang cara hidup manusia. Bahwa dunia ini dibangun di atas prinsip keseimbangan. Dan tugas manusia bukanlah menghilangkan salah satu sisi, melainkan menjaga agar keduanya tetap proporsional.

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini juga tampak dalam hal yang sederhana seperti bekerja. Ada orang yang bekerja semata-mata karena ibadah, tanpa mengharapkan imbalan materi. Itu adalah sikap yang luhur. Namun di sisi lain, manusia tetap memiliki kebutuhan dasar: makan, hidup, bertahan. Mengabaikan hal ini juga bukan bentuk keseimbangan.

Sebaliknya, ada pula yang bekerja hanya untuk keuntungan. Semua diukur dengan materi, dengan angka, dengan hasil yang bisa dihitung. Namun di titik tertentu, hidup terasa kosong, karena makna tidak pernah benar-benar hadir.

Keduanya, jika berdiri sendiri, sama-sama timpang.

Bekerja bukan hanya soal uang, tetapi juga bukan sekadar soal makna. Ia adalah pertemuan antara keduanya. Antara kebutuhan dan nilai. Antara dunia dan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar dunia.

Maka, mungkin selama ini yang perlu kita perbaiki bukanlah pilihan-pilihan hidup kita, tetapi cara kita memandangnya. Kita terlalu sering berpikir dalam dikotomi: bahagia atau tidak, untung atau rugi, nyaman atau tidak nyaman. Padahal hidup tidak pernah sesederhana itu.

Hidup adalah tentang merangkul keduanya.

Tentang menerima bahwa dalam setiap kebahagiaan ada potensi duka, dan dalam setiap duka ada kemungkinan tumbuhnya kebahagiaan. Tentang memahami bahwa keseimbangan bukan berarti tanpa masalah, tetapi kemampuan untuk tidak berlebihan dalam menyikapi keduanya.

Dan mungkin, di situlah letak kebahagiaan yang lebih sejati: bukan pada ketiadaan luka, tetapi pada kemampuan untuk tetap utuh meski luka itu ada.

0 Komentar