Setelah Membaca Broken Strings

 

Jurnal Refleksi 

Setelah Membaca Broken Strings

Oleh: Okta Riady



Membaca Broken Strings karya Aurelie Moeremans bukanlah pengalaman membaca yang selesai dalam satu lapis pemahaman. Ia bukan teks yang menuntut pembaca untuk segera menyimpulkan, melainkan teks yang memaksa pembaca untuk berlama-lama tinggal di wilayah abu-abu antara empati dan nalar, antara keberanian dan keterikatan, antara kesembuhan dan kebebasan. Refleksi ini lahir dari upaya untuk tidak tergesa memihak, tidak pula tergesa menolak, melainkan menempatkan diri sebagai pembaca yang bersedia menahan ketegangan batin yang ditawarkan buku ini.

Sejak awal, saya menyadari bahwa Broken Strings adalah narasi yang sepenuhnya subjektif. Ia ditulis dari satu suara, satu pengalaman, dan satu ingatan yang telah melewati proses waktu serta refleksi. Subjektivitas ini sering kali dipersoalkan dalam ruang publik, seolah-olah sebuah kisah hanya layak dipercaya jika menghadirkan dua sisi secara seimbang. Namun dalam konteks buku ini, subjektivitas justru merupakan fondasi eksistensialnya. Aurelie tidak sedang menulis laporan, tidak pula sedang menyusun pembelaan atau tuntutan. Ia sedang bersaksi tentang apa yang terjadi di dalam dirinya ketika relasi, kuasa, dan identitas bertaut dalam fase hidup yang belum matang.

Akan tetapi, mengakui subjektivitas bukan berarti menanggalkan sikap kritis. Dalam proses membaca, saya menemukan ketegangan yang menarik: di satu sisi, buku ini mengundang empati yang kuat; di sisi lain, ia menantang pembaca untuk tidak terjebak dalam absolutisasi rasa. Salah satu gambaran yang muncul dalam benak saya adalah rasa takut yang digambarkan penulis—takut yang begitu nyata, intens, dan membentuk cara pandang terhadap dunia. Rasa takut itu terasa seperti ketakutan pada sesuatu yang belum tentu hadir secara objektif, seperti seseorang yang takut pada hantu. Ketakutan tersebut nyata secara psikologis, menguasai tubuh dan pikiran, tetapi objek ketakutannya belum tentu sepenuhnya sebagaimana yang dirasakan.

Di titik inilah saya belajar membedakan antara kebenaran pengalaman batin dan kebenaran realitas relasional. Broken Strings sangat jujur dalam menggambarkan yang pertama, tetapi tidak dimaksudkan untuk menjadi pemetaan menyeluruh atas yang kedua. Buku ini tidak memberi ruang bagi suara lain, bukan karena ingin memanipulasi pembaca, melainkan karena memang tidak dirancang sebagai dialog. Ia adalah monolog batin yang dibuka ke ruang publik. Risiko dari bentuk seperti ini adalah pembaca yang kurang literasi emosional dapat dengan mudah mengubah pengalaman subjektif menjadi vonis moral yang final.

Meski demikian, kekuatan utama buku ini tidak terletak pada klaim kebenaran, melainkan pada keberanian. Saya melihat sebuah mental keberanian yang luar biasa ketika penulis memilih untuk menceritakan hal-hal yang oleh banyak orang dianggap sebagai privasi atau bahkan aib. Ia tidak hanya membuka peristiwa, tetapi juga membuka kebingungan, keterikatan, rasa bersalah, dan kontradiksi batin yang sering kali membuat korban justru merasa malu pada dirinya sendiri. Membuka wilayah ini berarti menanggung risiko besar: disalahpahami, disalahkan, atau direduksi. Namun justru di situlah letak keberaniannya.

Keberanian ini menandai sebuah tahap penting dalam proses pemulihan. Dalam psikologi trauma, kemampuan untuk menceritakan pengalaman secara naratif menandakan bahwa seseorang telah keluar dari fase keterbungkaman. Bahasa kembali ditemukan, suara kembali diambil, dan kendali atas makna mulai direbut. Dalam konteks ini, Broken Strings dapat dibaca sebagai sebuah ritual transisi: peralihan dari diam menuju bicara, dari tertekan menuju berdaya. Akan tetapi, ritual transisi bukanlah akhir perjalanan.

Hal yang kemudian mengundang refleksi lebih dalam adalah klaim kesembuhan yang muncul dalam buku ini. Penulis menyatakan bahwa ia telah sembuh, bahwa ia telah melalui proses panjang menuju pemulihan. Namun, sepanjang narasi, figur pelaku tetap hadir sebagai poros cerita, dari awal hingga akhir. Kehadiran yang konsisten ini menandakan bahwa luka tersebut, meskipun tidak lagi menganga, masih menjadi referensi utama dalam pembentukan makna diri. Luka itu telah dijahit, tetapi bekas nyerinya masih terasa ketika disentuh.

Di sinilah saya sampai pada kesimpulan bahwa Aurelie berada di wilayah tengah: bukan orang yang masih terjebak dalam luka terbuka hingga digerakkan oleh hasrat balas dendam, tetapi juga belum sepenuhnya bebas dari keterikatan makna pada pengalaman traumatis tersebut. Buku ini tidak menunjukkan niat balas dendam dalam arti sadar dan terencana. Tidak ada ajakan eksplisit untuk menghukum, tidak ada mobilisasi kebencian, dan tidak ada glorifikasi penderitaan. Yang ada adalah kebutuhan manusiawi untuk dimengerti, diakui, dan divalidasi.

Namun, ketiadaan balas dendam tidak otomatis berarti kebebasan penuh. Kebebasan batin biasanya ditandai oleh menyusutnya peran masa lalu dalam narasi diri. Pada tahap itu, pengalaman traumatis menjadi latar, bukan panggung. Dalam Broken Strings, panggung itu masih dikuasai oleh luka. Hal ini bukan kegagalan moral, melainkan realitas psikologis yang sering terjadi. Banyak orang berhenti lama di fase ini, bahkan sepanjang hidupnya, karena di sinilah identitas baru mulai terbentuk—identitas yang berani, bersuara, tetapi masih merujuk pada luka sebagai titik awal.

Refleksi ini membawa saya pada pemahaman bahwa masyarakat sering kali menuntut narasi penyembuhan yang rapi dan final. Kita ingin kisah yang memiliki klimaks dan resolusi, seolah-olah luka batin dapat ditutup seperti bab terakhir sebuah novel. Broken Strings menolak kerapian itu. Ia hadir dengan kontradiksi, ambivalensi, dan ketegangan yang belum selesai. Dalam penolakan itulah, buku ini justru menjadi jujur.

Bagi saya pribadi, membaca buku ini adalah latihan kedewasaan. Ia mengajak saya untuk menghormati keberanian tanpa harus menuhankannya, serta berpikir kritis tanpa harus mendelegitimasi pengalaman. Saya belajar bahwa kesembuhan bukanlah keadaan statis, melainkan proses yang bergerak, maju-mundur, dan sering kali tidak linear. Saya juga belajar bahwa tujuan akhir mungkin bukan benar-benar menghapus luka, melainkan hidup tanpa lagi dikendalikan olehnya.

Dengan demikian, Broken Strings saya tempatkan sebagai teks yang penting tetapi tidak sakral, berani tetapi tidak final, menyentuh tetapi perlu dibaca dengan nalar yang terjaga. Ia adalah suara seseorang yang telah berhenti bersembunyi, namun masih dalam perjalanan menuju kebebasan penuh. Dan mungkin, di situlah relevansinya bagi banyak pembaca: bukan sebagai teladan kesempurnaan penyembuhan, melainkan sebagai cermin proses manusia yang rapuh, berani, dan terus bergerak.

Bagi Kalian Yang belum Membaca Boleh juga Download Ebooknya di Link ini 

https://drive.google.com/file/d/1ppuiG5-u6AGjP2M5K5OGjWjGDvcaMv5I/view?usp=sharing

0 Komentar