JURNAL REFLEKSI ANTARA HOBI DAN CITA-CITA



JURNAL REFLEKSI

ANTARA HOBI DAN CITA-CITA

Oleh : Okta Riady

Sejak kecil, hampir setiap anak selalu ditanya: “Kalau besar mau jadi apa?” Pertanyaan sederhana itu ternyata menyimpan pola pikir masyarakat dan sekolah tentang pentingnya cita-cita. Anak diarahkan untuk membayangkan masa depan dalam bentuk profesi: dokter, guru, insinyur, atau pengusaha. Cita-cita dianggap sebagai penentu arah hidup sekaligus ukuran kesuksesan. Namun, di balik itu, ada sisi lain dari kehidupan manusia yang sering diabaikan: hobi, sesuatu yang muncul bukan dari tuntutan sosial, melainkan dari kesenangan dan bakat alami.

Jika ditelusuri lebih dalam, cita-cita sering kali berakar dari rasa kurang yang dialami manusia. Alfred Adler, seorang tokoh psikologi individual, menjelaskan bahwa manusia terdorong oleh perasaan inferior. Kelemahan inilah yang memunculkan kompensasi berupa cita-cita. Anak yang merasa tubuhnya lemah ingin menjadi atlet, seorang yang pernah miskin bercita-cita sukses secara finansial, atau seorang pemalu ingin menjadi guru. Dengan kata lain, cita-cita adalah usaha untuk menutupi kekurangan. Namun, karena lahir dari inferioritas, cita-cita sering membawa penderitaan. Ada rasa takut gagal, ada kecemasan tidak mampu membuktikan diri, bahkan ada tekanan dari keluarga dan masyarakat.

Berbeda dengan cita-cita, hobi lahir dari sumber yang lebih murni: kesenangan dan bakat. Seorang anak yang senang melukis tidak merasa perlu membuktikan apa pun ketika ia menorehkan warna di kanvas. Hobi memberikan ruang kebahagiaan tanpa syarat. Filsuf Yunani, Aristoteles, menyebut aktivitas yang dilakukan dengan kesenangan sejati sebagai eudaimonia, yakni kebahagiaan yang datang dari aktualisasi diri, bukan dari pencapaian eksternal. Jika ditekuni dengan serius, hobi dapat berkembang menjadi sesuatu yang jauh melampaui cita-cita orang lain. Seorang yang awalnya hanya hobi menulis bisa menjadi penulis besar. Seorang yang hobi memasak bisa membangun kerajaan kuliner. Seorang yang hobi bermain gim bisa menjadikannya karier profesional.

Sayangnya, sekolah formal jarang memberi tempat yang besar pada hobi. Pendidikan kita masih mewarisi sistem kolonial dan industrial, di mana sekolah dirancang untuk mencetak tenaga kerja sesuai kebutuhan negara dan industri. Karena itu, yang lebih ditonjolkan adalah cita-cita, bukan kesenangan atau bakat pribadi. Orang tua pun merasa lebih aman jika anaknya punya cita-cita yang jelas, meski tidak sesuai dengan hobinya. Padahal, seperti kata Ki Hajar Dewantara, pendidikan seharusnya menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Hobi adalah bagian dari kodrat itu, yang sering kali justru terpinggirkan.

Meski demikian, perubahan mulai terlihat. Beberapa sekolah yang mengadopsi kurikulum Merdeka memberi ruang lewat projek P5, di mana siswa dapat mengekspresikan minat mereka. Sekolah-sekolah alternatif bahkan menjadikan hobi sebagai inti pembelajaran. Di luar negeri, Finlandia terkenal dengan sistem pendidikan yang membebaskan siswa mengeksplorasi minat tanpa tekanan ranking. Semua itu memberi harapan bahwa pendidikan bisa lebih seimbang antara cita-cita dan hobi.

Bagi saya pribadi, kebahagiaan seharusnya tidak digantungkan pada cita-cita yang penuh tekanan. Cita-cita memang bisa memberi arah, tetapi terlalu bergantung padanya sering berujung pada penderitaan. Seperti diingatkan Buddha, akar penderitaan adalah keterikatan. Manusia yang terlalu terikat pada cita-cita akan sulit merasa cukup, karena selalu ada jarak antara harapan dan kenyataan. Sebaliknya, hobi yang dijalani dengan cinta justru membuat proses itu sendiri menjadi sumber kebahagiaan. Hobi menjadikan hidup ringan, penuh rasa syukur, dan tidak selalu dibayangi kegagalan.

Pada akhirnya, manusia tidak hanya butuh arah, tetapi juga butuh kebahagiaan dalam perjalanan. Jika sekolah dan masyarakat mau memberi ruang bagi hobi, maka anak-anak tidak hanya akan tumbuh dengan cita-cita, tetapi juga dengan keaslian diri. Dari hobi yang dijalani dengan sepenuh hati, manusia bisa menemukan kebahagiaan sekaligus kesuksesan. Dan mungkin, seperti kata Nietzsche, “Jadilah dirimu sendiri.” Menekuni hobi adalah salah satu jalan paling jujur untuk menjadi diri sendiri, tanpa harus dibatasi oleh cita-cita yang ditentukan orang lain.

0 Komentar