JURNAL REFLEKSI
BAGI TUGAS DALAM KEHIDUPAN,
BUKAN KOMPETISI DALAM MEREBUTKAN KEUNGGULAN
ditulis Oleh: Okta Riady
Seringkali kita mendengar pepatah, “lebih baik jadi kepala ikan teri daripada ekor ikan paus.” Pepatah ini seolah menekankan bahwa hidup adalah soal memilih posisi: apakah kita ingin menjadi pemimpin kecil atau sekadar pengikut besar. Namun, semakin saya merenungkan, pandangan itu terasa terlalu sempit, bahkan terlalu kompetitif.
Kehidupan tidaklah sesederhana membandingkan kepala dengan ekor, besar dengan kecil, utama dengan pinggiran. Jika kita melihat tubuh seekor ikan, tidak ada satu bagian pun yang tidak berguna. Kepala memang mengarahkan, tetapi ekor memberi tenaga untuk bergerak. Sirip menyeimbangkan, insang menjaga kehidupan melalui pernapasan. Bahkan sisik yang tampak remeh berfungsi melindungi tubuh dari luka.
Dari sini saya belajar, bahwa kehidupan bukanlah tentang “siapa di depan” dan “siapa di belakang”, melainkan tentang bagaimana setiap bagian menjalankan perannya. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya saling membutuhkan.
Manusia pun demikian. Kita kerap terjebak dalam ambisi menjadi yang paling berkuasa, paling menonjol, atau paling dikenal. Namun, jika kesadaran kita jernih, kita akan tahu bahwa setiap orang adalah bagian dari sebuah jaringan besar kehidupan. Ada yang berperan sebagai penggerak, ada yang menjaga keseimbangan, ada pula yang memberi perlindungan. Semua sama penting, semua saling melengkapi.
Pandangan ini selaras dengan Laozi dalam Dao De Jing. Ia menekankan bahwa segala sesuatu di alam memiliki tempatnya masing-masing, tanpa perlu dipertentangkan. Bagi Laozi, nilai tertinggi bukanlah yang paling keras atau paling menonjol, melainkan yang mampu mengalir seperti air: rendah hati, menghidupi, namun tak tergantikan. Seperti air yang selalu mencari tempat rendah, setiap bagian kehidupan menemukan perannya tanpa harus berkompetisi.
Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan peran, kedudukan, dan kemampuan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, Allah memang membagi tugas kehidupan agar manusia saling mengisi, bukan saling menyingkirkan.
Senada dengan itu, Alfred Adler berpendapat bahwa hidup pada hakikatnya adalah bagi tugas. Menurutnya, setiap manusia menghadapi tiga life tasks:
1. Tugas sosial (berelasi dengan orang lain dengan empati dan kerja sama),
2. Tugas pekerjaan (berkontribusi dalam kehidupan melalui kerja),
3. Tugas cinta (membangun hubungan yang sehat dan penuh tanggung jawab).
Adler menegaskan, seseorang akan menemukan makna hidup bukan saat ia berusaha unggul atas orang lain, melainkan ketika ia menjalankan tugas hidupnya dengan kesadaran akan kebersamaan. Dengan kata lain, tidak ada yang lebih penting antara kepala, ekor, atau sirip, karena semuanya hanya berarti dalam konteks saling melengkapi.
Refleksi ini membuat saya bertanya pada diri sendiri: apakah saya sedang sibuk mengejar posisi, atau justru sedang menunaikan peran yang telah dipercayakan kepada saya? Mungkin bukan soal besar atau kecil, melainkan soal kesadaran dalam menghidupi peran itu.
Pada akhirnya, makna hidup tidak ditemukan dalam posisi hierarkis, melainkan dalam harmoni: ketika setiap bagian menyadari tugasnya dan bekerja bersama menjaga kehidupan. Sebagaimana air yang menghidupi, sebagaimana amanah yang dititipkan Allah, dan sebagaimana life tasks menurut Adler, kita diingatkan bahwa hidup adalah saling berbagi tugas, saling melengkapi, dan saling menguatkan.

0 Komentar