Melampaui Ilusi, Merawat Kemanusiaan
Oleh: Okta Riady
Aku menuliskan ini di tengah dunia yang gemetar oleh dentuman senjata, di antara teriakan anak-anak yang tak mengerti mengapa langit mendadak bersinar merah, dan jutaan pasang mata yang terpaku pada layar-layar digital, menyaksikan kekerasan menjadi tontonan harian. Kemarin kita melihat genosida di Palestina, hari ini ketegangan antara Iran dan Israel. Di balik bayangan besar kekuatan-kekuatan global yang saling mengancam, aku bertanya: mengapa manusia terus membunuh manusia lainnya? Mengapa kita terus mengulang sejarah luka, padahal kita semua tahu—kekerasan tidak pernah sungguh-sungguh menyembuhkan?
Sejarah mencatat, sejak Perjanjian Westphalia di abad ke-17, manusia telah mengikat janji kepada konsep negara-bangsa. Wilayah ditandai, kedaulatan diakui, dan hukum antarnegara dibentuk untuk mencegah konflik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Gerbang perang tak pernah betul-betul ditutup—ia hanya dicat ulang dengan warna-warna nasionalisme, ideologi, dan keyakinan bahwa kebenaran Tuhan selalu berpihak pada bendera kita sendiri. Maka perang menjadi ritual berulang: bukan karena manusia tak tahu caranya berdamai, tetapi karena manusia percaya bahwa ada yang lebih mulia dari nyawa.
Di titik inilah aku mulai menyadari, bahwa akar dari semua ini adalah ilusi. Perang hidup bukan hanya dari senjata, tapi dari ilusi kolektif yang kita pelihara bersama. Ilusi bahwa tanah lebih suci daripada satu nyawa. Bahwa Tuhan hanya berpihak pada kita, bukan pada mereka. Bahwa senjata terbesar dapat menjaga perdamaian lewat ketakutan massal. Bahkan bom atom pun lahir dari logika semacam ini: “Jika semua gentar, maka tak seorang pun berani menekan pelatuk.” Tapi kita tahu, ketakutan bukan damai—ia hanya menciptakan keheningan-keheningan palsu, sementara luka dan kebencian tetap menyala di bawah permukaan.
Aku tidak menyangkal, aku pernah marah. Melihat Gaza hancur, mendengar kabar pembunuhan atas anak-anak, menyaksikan tanah dirampas di Tepi Barat, aku pernah ingin berteriak: “Kalau begitu, mari perangi Israel!” Tapi di tengah kemarahan itu, satu hadits Rasulullah ï·º mengetuk batinku: “Jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu sendiri.” Jika jihad teragung adalah penaklukan terhadap ego, maka bagaimana aku bisa membenarkan keinginan untuk membalas dendam dengan darah baru? Kemarahan, betapa pun sah dan wajar, bisa menjadi kendaraan bagi kebencian yang berkelanjutan jika tidak dituntun oleh kesadaran.
Al-Ghazali pernah mengingatkan, bahwa nafsu yang bersekutu dengan akal dapat melegitimasi keburukan sambil menyebutnya kebaikan. Kita bisa membenci, lalu menyebutnya jihad. Kita bisa membalas, lalu menyebutnya keadilan. Padahal bisa jadi, kita hanya sedang mengukir babak baru dari lingkaran dendam yang tak pernah usai. Sementara Ibn Arabi membawa kita lebih jauh, mengajak kita memandang manusia bukan sebagai lawan, tetapi sebagai cermin dari cinta Tuhan. Ia berkata: “Hatiku menjadi biara, kuil, padang, dan Ka‘bah; agamaku adalah agama cinta.” Dalam pandangan ini, batas antara “kita” dan “mereka” larut. Dan saat batas itu larut, kebencian kehilangan pijakan.
Suara yang sama juga terdengar di luar tradisi Islam. Gandhi, dengan kebijaksanaannya yang sunyi, memperingatkan bahwa “mata ganti mata hanya akan membuat dunia buta.” Martin Luther King Jr., pejuang keadilan rasial yang berdiri dengan cinta di tengah kebencian, berkata: “Kebencian tidak bisa mengusir kebencian. Hanya cinta yang bisa.” Bahkan Einstein—ilmuwan yang gagasannya membantu menciptakan bom atom—akhirnya menyesali jalur destruktif itu dan berkata bahwa kita tak bisa menyelesaikan masalah dengan pola pikir yang sama ketika kita menciptakannya.
Dari kesadaran inilah, aku merumuskan tekad: aku ingin melawan, tapi tidak dengan peluru. Aku ingin melawan dengan kesadaran. Melawan narasi penindas dengan kebenaran yang telanjang, tanpa manipulasi. Melawan ekonomi penindas lewat boikot yang sadar dan solidaritas yang terjaga. Melawan propaganda kebencian dengan pendidikan yang menumbuhkan empati. Dan yang paling sulit: melawan trauma turun-temurun dengan keberanian untuk tidak mewariskannya kepada anak cucu. Karena menurutku, damai bukanlah bentuk pasrah. Ia justru keberanian mental tertinggi: menahan tangan ketika marah, tapi tetap tegak menegakkan keadilan.
Jihad batin ini bukan slogan, ia sunyi dan melelahkan. Tapi andai ia dihayati bersama, mungkin pasukan tank akan kehilangan alasan untuk maju. Mungkin kekerasan akan mulai kehilangan panggungnya. Dan mungkin dunia bisa sedikit lebih bernapas, bukan karena takut, tapi karena sadar.
Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada dunia, jika dunia mau mendengar: yang membuat dunia damai bukanlah kekuatan untuk membunuh, melainkan keberanian untuk tidak membenci. Ketika kita berhenti melihat bumi sebagai “milik kita” dan mulai merasakannya sebagai “diri kita”, maka perang kehilangan maknanya. Sebab tiada satu hamparan tanah pun yang lebih suci daripada satu jiwa manusia yang hidup dan bernapas.
Aku menyatakan sikapku. Aku menolak menjadi pewaris kebencian. Aku tidak mau menyalakan api perang hanya karena warisan sejarah menyuruhku untuk membenci. Aku memilih menjadi ruang di mana damai bisa bernapas, meskipun kecil dan mungkin tak terlihat. Karena meskipun dunia belum siap hidup tanpa senjata, aku ingin hatiku menjadi tempat pertama di mana senjata itu tidak berguna lagi.
Semoga tulisan ini sampai kepada siapa pun yang masih terbelenggu ilusi bahwa peperangan adalah satu-satunya jawaban. Semoga ia menemukan keberanian untuk merawat kemanusiaan, mematahkan rantai dendam, dan menghadirkan rahmah—bukan sebagai kata yang diucapkan, tapi sebagai pengalaman yang dihayati dan dibagikan.
Dan jika esok dunia masih gaduh oleh sirene bahaya, jika ledakan masih menggema dan puing-puing masih berserakan, aku berjanji: aku tidak akan ikut menambah bising. Aku akan tetap menjadi nyala kecil di tengah gelap, mengingatkan—meskipun pelan dan kadang diabaikan—bahwa damai bukan utopia. Damai adalah keputusan. Keputusan yang diambil ulang, setiap hari, oleh setiap hati yang masih percaya bahwa cinta lebih kuat dari peluru.

0 Komentar